Bapak dan Idealismenya

Bapak dan Idealismenya~


Hari ini (21 Juni 2019) begitu terasa berat dan melelahkan. Suhu tubuh tak menentu, penunggu dompet tak banyak, dan sinisme meningkat, laaah tentunya ke-introvertan ku makin jelas menyapa. Ada yang kurang hari ini, seperti ada yang kosong tetapi terasa sesak. Beginilah, ikhtiar ku hari ini biar bisa nangis, aku nonton di berbagai unggahan video di facebook dan instagram perihal masuk Islam nya Om Deddy Corbuzier yang dibimbing oleh Gus Miftah, kuulang video itu sampai 6 atau 7 kali, aku yang biasanya gampang mbrebes mili alias gampang nangis, tapi kok setelah lihat Om Deddy bersyahadat kok nggak nangis tah? Yaallah Gusti, ada apa Aku ini. Apa Aku ini sebenarnya batu, tapi kok batu bisa hidup ya? Hmm., hatinya yang batu! Apa Aku ini sebenarnya nggak suka kalau saudara Islam ku ini nambah? Apa begitu ya? Gusar sendiri puluhan menit, “ada yang aneh!”. Batinku.   
Beberapa kali Aku mencoba mencari tahu sendiri ada apa Aku ini, tapi belum menemukan sesuatu hal. Halaah, ini mungkin mood yang lagi nggak bagus aja! Nonton yang lucu-lucu saja we lah!. Berseluncurlah Aku ke channel youtube nya Dzawin Nur, hampir 20 menit an Aku hanya manggut-manggut nggak jelas. Padahal biasanya ketawa pecah kalau sudah lihat komika yang satu ini. Ngomel lah Aku, “Ngopo sih iki? Enek opo? Kamar berantakan koyok ngene raono sing mberesi, arep ngguyu males, nangis opo meneh, arep sholat males, adus soyo meneh. Yaallah… repotmen iki dadi Aku!” 
5 menit setelah itu Aku sedikit agak bisa menguasai diri, lalu Aku mencari tahu tentang apa yang sebenarnya si Aku inginkan hari ini, kalau nggak cepat-cepat kuturuti, bisa hancur seketika.~ hiyaaa..
Aku mengingat-ingat tentang apa yang kemarin dan hari ini kulakukan, sik bentar tak inget-inget , kemarin pagi berangkat survei KKN (lagi) terus agak siangan sebelum pulang, karena kita semobil sama Pak Juli, kita ke KUA Selo soalnya Pak Juli mau cari informasi terkait pernikahan dini, pas di KUA Pak Juli ngobrol sama Pak Kepala KUA, sedangkan Aku, Isna, sama Ria ngobrol-ngobrol sama salah satu pegawainya. Nah salah satu obrolannya sedikit  membahas tentang umur bapakku, yang 3 tahun lebih muda dari Bapak yang kami ajak ngobrol ini, (ngapunten pak, lali asmane njenengan) Bapak kelahiran 67, pak KUA ini kelahiran 64. Wes setelah itu kami pulang.. jeng jeng jeng.. sorenya Aku sama Ditya ke Laris Toserba, sedikit belanja aja kebutuhan perempuan. Sampai parkiran entah ada angin apa, aku ngomong tentang Bapakku, orangnya nggak suka melihat banyak sampah. Selalu memarahi Aku dan Simbokku (Ibuku) kalau melihat kami menenteng banyak plastik setelah belanja, dengan dalil kalau belanja itu ya belanja aja, nggak harus pakai plastik banyak-banyak. Nyumpek2 ini bumi katanya. Yaampun hemmm~~
Aku juga ngomong ke Ditya kalau Aku ditanyain Bapakku, caranya buat sampoo, atau sabun sendiri, jadi nggak perlu beli-beli, niatnya  agar bisa  minimalisir sampah. (Hemmm,,, pak e pak e~) Ditya tertawa terkekeh, berceletuklah dia “hakok bapakmu peduli men to)  Haku yo ra reti cuuuuiiiii~
Dan dan dan, Aku mbatin. Pengin ah nulis ubet e dadi anak e bapakku dari segi “minimalism” kayane apik dyeh~ 
Hiya, hari berganti jadi Jum’at tanggal 21, siang ke Akademik Fakultas mengantarkan surat follow up PPL, terus ke ATM, (eeeh uang gabisa di ambil, saldo 96.000) wes wes wes bad mood meneeeeh~~~  
Ba’da magrib, mulai gusaar lagi, hem bingung. Kulihat story Whatsapp nya Bang Pei, alah yang itu lho tebak-tebak an  absurd, begini redaksinya : “Bisakah Kamu menjawab ini? “ Ada 5 orang dalam kamar, tiba2 datang seorang pembunuh. Dia membunuh 4 orang. Tinggal berapakah orang yang didalam kamar itu? Jika benar foto Anda saya post. Salah wajib repost. –Saya kalah dari ….”  pasti kalian semua paham. Aku malas sebenernya ngebaca, ini aneh, pernah booming hampir 1 tahun yang lalu, risih aku, jijik. Tapi entah ada angin apa, aku reply. Jawabanku salah HAHAHA. Yawis tak repost. Dan dan dan banyak yang bisa ngejawab dan ada yang nggak bisa ngejawab, kalimat umpatan-umpatan kemrutuk masuk di Wasapku, okelah sesuai perjanjian Aku repost beberapa yang bisa ngejawab,  tapi ini ada satu manusia yang beda, namanya Agus Wedi, dikontak HP ku kuberi nama “Gusagus”,  ia nge-reply story ku begini : “ Tinggal 5. Kan nggak jadi membunuh. Antisipasi. Kalau kalimat hanya berhenti di : bisakah kamu menjawab ini : jawabannya adalah tidak dan bisa. Kalau masih kalimat subjek, objek, predikat, jawabannya tetap abstraksi. Gitu. Suruh repost dan dibodohi prang. Terus nurut. Apa nggak gila tuh. Santai… (pakai emoticon ngantuk)”  ada yang mau nebak bagaimana ekspresi dan respon ku? Hayolah tebak!!! Ndang o ditebak!!! Cepet!!!!1!!!!!!! hehe
Hayo jelas, aku reflek langsung ketawa gak mandeg-mandeg, petcahhhh, bener-bener reflek hp ku tak ketuk-ketukne ke lantai, ada yang lucu gitu… seketika perasaanku langsung losss, plong, jadi enakan lah pokoe. “Aku langsung mikir, wehh kok Aku kimau iso ngguyu, sedino utuh mbingungi dewe, ranggenah. Hakok kimau iso ngguyu wi piye aku, duh duh.. maturnuwun Gusti Allah”   
Tipe-tipe orang merespons story saya yang saya repost dari Bang Pei beda-beda, ada yang menjawab Bisa dan Tidak, ada yang langsung menyebut Angka tetapi salah (versi beberapa orang) ada yang langung  mereply “ halah opo kui” hasshh banyak banget. Tetapi ada juga tipe-tipe seperti Agus Wedi tadi, banyak mungkin yang berpikiran seperti itu, tapi hanya Agus Wedi yang langsung to the point menjawab seperti itu tadi. Duuuh wetengku loro, ijek ngguyu iki ~~~ ramasok!!!
Intinya begini, dari Aku tertawa tadi akhirnya Aku menemukan apa yang Aku inginkan hari ini, sepertinya Aku ingin menulis tentang Bapak, ku breakdown lagi tentang segi minimalism, kubreakdown lagi tentang sampah. Hiya. Aku hanya ingin bercerita tentang Bapakku yang peduli dan agak sering gelisah tentang adanya sampah plastik, tapi tolong dengarkan sampai habis. Ya?
Kita semua tahu, plastik kian mendominasi sampah dimuka bumi ini, pernah suatu sore, Bapak lagi makani sapi, wedhus ( Bapak memberi makan sapi dan kambing) sedangkan Aku mbakar sampah plastik-plastik disamping kandang sapi untuk bludhukan (red : Api untuk menghangatkan sapi dan kambing, agar nggak ada nyamuk) Bapak ngomong begini, “ horo to, nek samapah nggone dewe we akeh e koyo ngene ki ndahle ditambah nggone wpng sak akehe, opo-opo ki ojo mung mroduksi sompah sampah wae, nyang pasar ki nggowo adah-adah, raperlu muleh-muleh nggowo plastik sak akeh e, boros.” Yoreti dewe aku ya mung jawab “ yo lho pak pak” lha nek ra peduli tentang sampah ndah mbesuk arep kepiye, rusak! “
Bapak bukan tipe orang yang suka ngebakar sampah, kecuali sampah plastik. Itupun untuk bludukan, Jadi….. sampah-sampah organik antara lain godhong sawo, godhong jati, mahoni, dll sekitaran rumah kalau nyapu, itu nggak dibakar. Biasanya kan kalau nyapu, trus di bakar kan? Nah bapakku ini anti bakar garis keras. Di cikraki, trus ditimbun. Jadi pupuk lah. Hem…. 2 Pohon sawo guedeee ngarep omah ngrembuyung  raoleh ditegor, haweeeh, resak thok isine. Pak pak… adewe ki kok ngingu resak akehe koyo ngene~~~
Oiya, Bapak paling gak seneng botol-botol plastik dibakari, dalile metu, “ koyo ngono ki dilumpukne, konp lho dokok bagor, di rosokne Mbah Wito!! Wong kok opo-opo dibakari wae!” yawes tentu aku nJawab “hiyo lho pak pak” karo mrengut. Byasaaa..
Sekitar sebulanan yang lalu aku membeli seperangkat sedotan stainless hehe ahamdulillah, berkat termotivasi Mbak Muril, channel youtube nya Maurilla Sophianti Imron, untuk menggalakkan zero waste langkah kecil harus meminimalisir penggunaan sedotan plastik genks. Yawis aku tuku, tak laporne bapakku, bapakku manggut manggut. Mungkin mbatin “ nek ngene anakku tenan” koyone sih HAHAHA
Ohiyaa, terlepas dari objek “sampah”, random ke Mie Instan. Bapakku ini paling mungkat kalau aku dirumah makan masak mie, krethak krethek mbukaki kulkas nyari cabe, segenggem cabe kuiris, kumasak duet bersama mie instan (makanan favorit seluruh manusia bumi), nangkring di kursi bersama semangkok mie di tambah kecap dan saos… dyeeeerrrr!! “ haweke mung mie wae opo ramesakne lambungmu, mie wae mie wae mie wae, mangan ki mangan sego. Lombok e akeh eram, halaaah halalaaaahhhhh” yaaa baikla, ~ untuk urusan mie, kutak bisa mendengarmu pak~~~ wakakaka
Ini yang paling menyebalkan, Bapakku ini orang yang anti anti anti garis paling keras anti obat-obatan kimia, pernah suatu ketika pakku ini sakit, masuk angin, menggigil. Panas. Dipriksakan nggak mau, apa-apa nggak mau, maunya ya dibikinkan wedang jahe, kopi pait, yaaaa itu aja.. mentok-mentok minum bio terra. Aku yang sering mbentak-mbentak bapakku kalau sedang kayak gini (maaf yo pak hmm) mengkhawatirkan seisi rumah, aku pernah mengambilkan obat paracetamol aku menyuruh minum satu kali saja, bapakku nggak mau. Untuk menurunkan panas thok nggak mau. Ya. Sudah bertahun-tahun bapakku ini, perut nya tidak dan nggak mau kesentuh obat-obatan kimia, alasannya ngeman-eman ginjalnya. Karena obat-obat begitu bahaya. Hayo aku njeplak ngomong. “Bahaya opo we pak?? Lha rumangsane nek pake ngrokok kui opo ra bahaya?” yaaaaa~~~ orang perokok itu punya sejuta alasan untuk kekeuh mempertahankan kerokok-an nya. “ora!! Obat kimia ki luwih bahaya” hawes karepmu pak pak.. rasakno dewe, wong mung ngombe pisan ki opo bahaya, wong yo ra bendino kok. Wes lah gak enek entek e mbahas Bapakku sing anti obat kimia iki, mbulet. 
Nah nah nah, FYI bapakku itu perokok, pecandu kopi pait garis depan (kalau minum tehh manis beser-en, pipis terus jarene) nahh… kata bapak kopi itu menjadi penetralisir dari rokok, dan tiap harinya bapakku ngonsumsi Habbatusauda, jadi yaaa gitu deh… 
Oiya, bapakku ini mungkin banyak unsur bumi nya, jadi bapak ku ini dari mudanya suka tanam menanam, petani gaes. Hopo wae di tandur. Bendino ngubengi omah mantau tanduran. 
Lauk makan pun bapak sukanya yang hijau-hijau, alias sayuran. Pernah 1 minggu di Jakarta di rumah Bulik, muleeehhh gaes… rabetah jarene, pangane mung iwak-iwakan, ning awak jarene kaku nek ra mangan sayur. Hemm, baiklah pak~~
Closing, bapakku ini idealis banget. Idealismenya sulit di terjang oleh orang lain. Sebegitu cintanya pada alam dan banyak orang. Sosok yang sederhana dan ora kemrutuk. Hakok bedho karo sifatku ya pak. Wong og sak geleme dewe koyo aku ngene, anake sopo Aku Pak ? -___-
Maaf ya, saya sudah selesai nggedupuk. Akhirnya sudah lega dan membaik. Terimakasih :)

Komentar

Postingan Populer