WAKTU
Kamu pernah ngga mikirin bagaimana waktu bekerja?
Kenapa ya, kadang ada waktu di mana kita nggak mengharapkan sesuatu. Tapi ujug-ujug saja kejadian di kita langsung gitu.
Sisi lain, ada waktu juga di mana pikiran kita dengan mantapnya merancang segala kemungkinan-kemungkinan baik untuk satu hari yang sudah ditentukan. Tapi mak plekenyik, waktu belum mengizinkannya.
Kamu pernah kan merasakan itu? ha jelas pernah lah yaaa wqwq
Rasanya mongkok banget gitu ga si? kecewa bodoh.
Kalau aku boleh mengibaratkan, misalkan sedang dalam keadaan begitu. Rasanyaaa.. kayak sedang diuncalne sendirian, di pojokan, dan ditinggalkan banyak orang. Disuruh mikirin dulu, kenapa bisa begitu dan begini. Suruh evaluasi kenapa waktu belum mengizinkan. Kui mung rasakuu lho ya..
Kenapa aku mikir gitu? yo saksakku. Ah bukan gitu. Maaf.
Yaa karena semua hal pasti ada alasannya. Ada benang merah kenapa si waktu belum mengizinkan. Pasti deh. Eh mbuh ya, atau aku yang terlalu berlebihan aja?
Emang memikirkan hal mendetail itu merepotkan! (( bagi yang merasa direpotkan. ))
Kalau yang bisa mikirin, yaaa itu tadi. Merepotkan, tapi tetap menjadi jobdesk dia seutuhnya. (jobdesk jare!)
Katanya, ngga semua harus dipahami juga. Biarkan waktu mengalir, sebebasnya, semau-maunya, ia akan bekerja pada porosnya yang paralel itu.
Iyo, aku paham. Waktu itu akan bekerja sesuai porosnya. Tapi juga wajar ngga si kita tetap mempertanyakan?
Rasanya wajar-wajar aja, tapi lho, tak rasa-rasa aku eh kita mempertanyakan itu dalam maksud bentuk protes ngga si asline? ada maksud transaksional terselubung?
Kenapa semua hal tidak sesuai karepku dan karepmu itu. Mwehehe.
Padahal kita tahu, emang ngga semua hal bakal sesuai karepnya kita.
Tapi yang terasa mak plekenyik itu tadi, akan terbayar ketika kita tahu maksudnya, atau.. atau nih, digantikan dengan moment mengesankan versi baik yang diinginkan kita secara sadar maupun jauh di bawah alam sadar yang ujug-ujug terjadi begitu saja.
Pancen ya, wis koyone memang transaksional deh.
Kalian pernah juga di situasi yang seperti itu, kan? Wqwq
Kebetulan, aku baru aja merasakan itu. Ngedistrack ke tubuhku banget. Badan jadi lemes, dan dispepsiaku agak muncul. Alias sejenis asam lambung itu lho~ ngga bisa makan nasi, eh lebih ke ngga mau ding.
Ini tadi aku nyawang di pinggir jalan orang lagi jualan goreng-gorengan aku mual, pengin hoek-hoek. Wqwq. Mendadak 'clean' yhaaa~
Pas aku periksa, sampai di klinik menunggu antrean panjang.. aku ngobrol sama Ibuk-ibuk, mungkin usianya hampir 50-an, beliau diantarkan anak perempuannya. Aku tanya apa yang dikeluhin, soalnya jalannya agak sempoyongan.
Beliau bilang kalau pas bangun tidur tangan dan kaki kirinya tiba-tiba tidak bisa gerakin, mungkin gejala stroke. Dulu beliau pernah stroke ringan juga, tapi sudah sembuh, dan ini kambuh.
Ngga lama, anak perempuannya pulang sebentar mau ngurus izin kerjaan. Dan Ibuk itu ditinggal. Naah nahh, Ibuk ini mau ke toilet. Aku menawarkan bantuan memapahnya, tapi beliau ngga mau. Aku memaksa membantunya.
Sambil jalan ke toilet, dengan perasaan was-was aku memikirkan, "bagaimana kalau Ibuk ini jatuh di toilet?" tapi ternyata sukses saja aku membantunya, aman-aman saja. Dan betapa mengerikannya pikiran was-wasku itu. Hesh.
Kemudian Ibuk itu cerita tentang kerjaannya. Dalam posisi sakit seperti itu, sudah ditanya bos-nya. Kapan ia bisa balik ke tempat kerja. Ibuk itu berkaca-kaca. "Mbak, gaji ora sepiro, tuntutane gak kiro-kiro e Mbak.." sambil memukul tangan kirinya.
Sakit banget dengernya.
Tak tanggepin ringan, misalkan nanti suruh opname atau dirujuk ke RS yang besar manut aja. Tak suruh perhatian ke tubuhnya juga. Huhu pokoknya aku ndakik-ndakik banget ngandani Ibuke tadi.
Ketika anak-anaknya udah dateng, aku pindah tempat duduk.
Ngajak ngobrol Ibuk-ibuk muda dengan anak laki-laki.
Biasalah ya, saling tanya sakitnya apa. Dan aku kok ya reflek tanya, sekolah anak lanangnya itu ada MBG ngga. Katanyaaa, katanya ada. Ia pun bercerita lauknya apa saja,
"Nganu mbaaak.. yuh.. nopo ya, anyep lho Mbak."
kami pun tertawa bareng.
Dan obrolan itu berlanjut ketambahan Ibuk-ibuk muda juga, anaknya sedang demam tinggi. Ia kemudian menceritakan tentang salah satu faskes di Jogja dengan segala birokrasi kesehatannya yang sangat njlimet dan mahal itu.
Duh, sampai situ aku tambah mual. :) lebih ke kondisi makin muak sama pemerintah. *loh kok tekan kono~
Dah, tiba giliran aku diperiksa. Biasa, aku ditanya apa yang ngetrigger dispepsia kambuh. Ya tak jawab apa adanya. Haha. Sesuatulah pokoknya~
Dan mbuh kenapa kok sampai ke obrolan: "Indonesia sedang tidak baik-baik saja."
Aku pun cerita kalau emang akhir-akhir ini, aku sering konsumsi visual, sosmed yang sangat berlebih.
Dokter saranin untuk aku stop dulu, Ia bilang kalau ngga punya instagram dan tiktok, karena ngeganggu banget.
Aku pun juga menimpali, hanya main instagram dan X saja. Dari dulu gaberani nginstall tiktok.
Eeeh, kok malah sampai sinii. Yawis pokoknya gitu. Random dan melompat-lompat banget ya. (?)
====
Waktu bekerja itu rasanya begitu sempurna, lucu, dan penuh hal-hal yang ngga keduga ya.
Semoga kamu dengan segala krenteg ati baikmu selalu dalam pelukan di zona waktu yang keren-keren ya. 🌿🛠✨️🌻
Kalau ngga keren, bisa sambat lho ya~ hoho
Yogyakarta, 28 September 2025

Komentar
Posting Komentar